Tingkatkan Kemampuan Merangkai Lewat Sekolah Bongsai | Detik Sumsel
Detik

Tingkatkan Kemampuan Merangkai Lewat Sekolah Bongsai

Palembang, Detik Sumsel – Ketua Umum Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI), Erwin Lismar berkeinginan agar kemampuan merangkai atau mengolah bonsai di seluruh tanah air merata sebab selama ini kemampuan merangkai bonsai masih didominasi oleh petani atau perajin bonsai dari Jawa dan Bali.

Ke depan dia ingin semua daerah di tanah ini memiliki kemampuan yang sama sehingga tidak lagi hanya menjadi penyuplai bahan ke pulau Jawa saja tapi juga bisa menghasilkan bonsai yang baik dan bernilai tinggi.

“Selama ini bahan baku bonsai baik itu akarnya biasanya di suplai dari Sumatera dan Sulawesi kirim ke Jawa Bali dan kemudian dibudidayakan dengan modal awal Rp 5-10 juta beberapa tahun kemudian laku dijual ratusan juta, ke depan kita ingin semua daerah bisa membuat bonsai seperti itu,” katanya, Jumat (2/12).

Untuk mewujudkan itu dia ingin membuat sekolah bonsai setelah festival bonsai Sriwijaya usai di gelar.

Kelas akan dibuka selama dua pekan menghadirkan mentor dari Jawa karena memang sejak dulu di Jawa perkembangan bonsai lebih dulu ada dibanding pulau lain di tanah air.

Oleh sebab itu selama ini kiblat membuat bonsai masih berkaca di Jawa dan Bali.

Ditambahkannya, dalam waktu dekat sekolah bongsai ini akan dilakukan di palembang dan akan dipusatkan di Asrama haji Palembang.

Sekolah bongsai ini ditargetkan diikuti 50 peserta pencinta bongsai dan untuk prakteknya akab dilakukan door to door ke pengemar bongsai di Palembang.

Saat ini untuk PPBI sendiri ada 201 cabang se-Indonesia.”Tiap bulan kita selalu mengadakan pamerab bongsai bisa 8 kali dalam satu bulan secara nasional dan secara internasional diadakan tiap 4 tahun sekali,”katanya.

Bongsai sendiri bisa diambil dari alan seperti ditepi pantai dan kalau Sumatera di hutan. jenis bongsai sendiro ada kanting putri dan jeruk kingkit.

Erwin sendiri menggeluti hobi bonsai sejak 21 tahun lalu dan saat ini fokus mengembangkan agar bonsai tetap maju dan berdaya saing bukan cuma di Indonesia saja tapi juga di kancah internasional.

Oleh sebab itulah dia ingin agar kemampuan anggota PPBI ini merata sehingga bisa membuat hobi mejadi puluang usaha yang menjanjikan dan berdaya saing.

Di singgung soal harga bonsai yang dibandrol hinga Rp 3 miliar di lintas bonsai Sriwijaya, menurutnya harga itu dibandrol mahal agar tidak ada orang yang membeli sebab si empunya tidak ingin menjualnya karena sayang.

Namun meski mahal kadang tetap ada saja yang mau membelinya karena memang seni itu tidak bisa diukur dengan harga.

“Bonsai yang mahal itu diukur dari sertifikatnya atau kelasnya, seberapa sering ikut kontes dan seberapa tinggi kelasnya sebab setiap bonsai juga memiliki kelas mulai dari prosfek hingga bintang. Kelas bintang itukah biasanya yang paling mahal harganya karena bonsai sudah jadi atau sudah matang dari semua kualitas yang disyaratkan dalam kontes,” jelasnya.(May)

H. Hendri Zainuddin, KETUM KONI SUMSEL

Check Also

Bentuk PT Telkomsel Ekosistem Digital

Palembang, Detik Sumsel- Telkomsel memastikan keberlanjutan peta jalan transformasi sebagai perusahaan telekomunikasi digital terdepan di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *