UPPB Kendalikan Harga Jual Karet | Detik Sumsel
Detik
Plt Kepala Dinas Perkebunan Lahat, Vivi Anggraini SSTP tengah mengajak petani membentuk UPPB, foto istimewa.

UPPB Kendalikan Harga Jual Karet

Lahat, Detik Sumsel – Dari 412 ribu luasan kebun karet di Kabupaten Lahat, baru ada empat unit pengolahan dan pemasaran bokar (UPPB) yang terbentuk. Angka tersebut membuat Kabupaten Lahat paling sedikit memiliki UPPB. Padahal UPPB tersebut bertujuan untuk mengendalikan harga jual karet, agar petani terhindar dari tengkulak yang nakal.

Empat UPPB itu tersebar di Desa Pagar Agung Kecamatan Pajar bulan, Desa Bunga Mas Kikim Tengah, Desa Makartitarma Lahat, dan Desa lematang Jaya Kecamatan Merapi Timur. Selain mendapatkan keuntungan dalam harga jual, melalui UPPB petani juga mendapat keuntungan berupa beragam bantuan pemerintah.

“UPPB ini wadah bagi petani karet, untuk meningkatkan pendapatan, karena selisih harga dari tengkulak sangat besar. Jika di tengkulak dihargai Rp 9 ribu -Rp10 ribu per kilo, di UPPB Rp 12- Rp15 ribu per kilo,” terang Plt Kepala Dinas Perkebunan Lahat, Vivi Anggraini SSTP, Rabu (12/1).

Getah karet tersebut disalurkan ke perusahan bermitra, yakni dengan PT Kirana.

Tahun 2022 ini ada lima UPPB baru yang dibentuk, yakni di Desa Cempaka Wangi Kecamatan Merapi timur, Desa Paduraksa Kikim timur, Desa Ulak Emas Lahat, Desa Tanjung Aur Gumay Ulu, dan Desa Lebak Budi Kecamatan Merapi Barat.

“Agar bisa mendapatkan bantuan cairan Sintas90 itu, syaratnya lahan keanggotaan dalam UPPB harus seluas 100 hektar, penghasilan getah dalam dua minggu sebanyak 4 ton. Untuk di Lahat itu tidak susah, di Desa Paduraksa saja 1 minggu bisa menghasilkan sebanyak 20 ton,” terang Herman Suyanto SP, Kabid P2HP (pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan), disampaikan Marji SP, Kasi Standarisasi dan Mutu Hasil Perkebunan.

Selain mendapat keuntungan harga, petani yang tergabung dalam UPPB juga mendapat bantuan cairan pengeras getah karet. Produknya bernama Sintas 90, yang saat ini tidak diperjual belikan. Dari satu botol Sintas 90 berukuran 200 mililiter, dicampur enam liter air, bisa digunakan untuk 10 getah karet berukuran 1 meter x 80 centimeter.

“Dengan Sintas90, getah jadi lebih padat. Kedepan getah yang dijual tidak boleh lagi menggunakan pengeras yang selama ini dipakai, seperti menggunakan tawas atau pupuk SP36. Kadarnya kadarnya tidak masuk standar untuk olahan pembuatan bahan baku seperti ban,” ujar Marji. (heru)

H. Hendri Zainuddin, KETUM KONI SUMSEL

Check Also

Pengurus ICMI OKI Dilantik, Ini Harapan Wabup Shodiq dan Ketua ICMI Sumsel

Kayuagung, Detik Sumsel – Muhammad Refly, S.Sos., MM., dan pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *